Jumat, 23 November 2012

Menyoal Integrasi Sains Dalam Pelajaran Bahasa Pada Kurikulum 2013




Era teknologi dan informasi saat ini telah merubah wajah sains menjadi lebih ramah. Sains bukan lagi menjadi bagian dari orang-orang berkacamata tebal dengan pakaian yang tidak trendy yang gemar membawa buku tebal dan menghabiskan waktu untuk tenggelam di dalamnya pada ruang-ruang sunyi. Sains telah menjadi “cairan amnion” yang mengitari dan memberikan nutrisi bagi pemikiran kita. Lihat saja, hampir semua media - baik cetak maupun online - menyediakan ruang khusus untuk berita-berita sains. Sains tidak lagi ditulis dengan bahasa yang ketat serta istilah-istilah yang sukar, tetapi isi sains telah dikemas dengan bahasa narasi layaknya sebuah karya sastra sehingga mudah dicerna oleh pemikiran yang awam sains sekalipun. Setiap saat, kita bisa membaca berita tentang lingkungan, biologi, fisika, kimia dengan santai ditemani secangkir kopi dan sepotong pisang goreng di pagi yang cerah.
Sains telah menjadi kebutuhan masyarakat modern saat ini. Tak perlu strata pendidikan yang terlalu tinggi untuk memahami konsep-konsep sains. Orang bisa membicarakan perkembangan sains seperti efek rumah kaca, sel punca, kloning atau proyek ambisius semacam human genome project dengan santai hanya karena telah membaca laporan-laporan jurnalistik tentang sains. Masyarakat saat ini adalah masyarakat yang “melek sains” atau dikenal istilah scince literacy citizen.  Sebuah proyek masa depan yang telah digagas semenjak beberapa dekade terakhir.
Literasi sains didorong oleh berkembangnya riset-riset sains pada lembaga-lembaga penelitian maupun pendidikan. Media menyadari bahwa sudah saatnya hasil-hasil riset itu dikeluarkan dari tumpukan kertas yang dirujuk hanya ketika ada riset lain yang sejalan, tetapi harus dikomunikasikan secara luas kepada publik. Tujuannya, mendidikan masyarakat menjadi lebih saintifik (scientific citizen). Infiltrasi sains ke dalam masyarakat juga merupakan suatu upaya mendorong masyarakat modern yang rasional dan kritis serta mengurangi dampak doktrinisasi yang tertutup. Sistim demokrasi modern membutuhkan masyarakat yang rasional dan kritis. Dan, upaya itu dapat dilakukan dengan mendorong pertumbuhan riset-riset sains pada lembaga-lembaga pendidikan.
Berkembang pesatnya informasi seputar masalah-masalah sains justru terbalik rancang-bangun pendidikan Indonesia. Pada kurikulum yang baru nanti, pendidikan sains bukan lagi menjadi satu mata pelajaran tetapi dileburkan ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kalau tak mau dibilang disubordinasi. Kabar itu sudah dikemukakan oleh Menteri Pendidikan, M. Nuh. Pendidikan dasar tak lagi mengajarkan sains sebagai mata pelajaran tersendiri. Ada ketakutan bahwa kurikulum yang baru nanti justru sebuah langkah mundur dalam perkembangan literasi sains di Indonesia.
Kehadiran sains dalam sistim pendidikan merupakan suatu langkah efektif untuk mendorong pertumbuhan sains dan masyarakat yang melek sains. Kelompok terpelajar di lingkungan pendidikan formal adalah lokomotif yang mempelopori perkembangan sains di masyarakat luas. Namun, bagaimana jika kondisi tersebut menjadi terbalik. Kelompok terpelajar yang diharapkan menjadi lokomotif sains justru bergerak dengan kecepatan siput. Sementara di luar sana, publik terus disuguhi perkembangan sains dari luar negeri melalui teknologi.  
Diintegrasikannya sains dalam mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kekacauan logika paling parah yang mengarah pada kemunduran literasi sains pada kelompok terpelajar. Ada beberapa alasan mengapa integrasi sains ke dalam mata pelajaran bahasa adalah kemunduran sains di Indonesia.
Pertama. sains bukan hanya mata pelajaran yang berisi informasi faktual tentang konsep-konsep atau teori-teori abstrak dan kaku sehingga harus dianggap sulit diterapkan untuk anak-anak pada usia sekolah dasar. Sains juga adalah proses dan cara berpikir. Dan, proses merupakan ciri utama sains yang dilakukan dengan cara penyelidikan ilmiah (scientific inquiry), baik secara laboratory inquiry atau field inquiry. Sains menuntut keterlibatan aktif siswa secara mental maupun secara fisik. Memang untuk jenjang pendidikan dasar, sains tidak harus diterapkan secara ketat layaknya sains pada mahasiswa jenjang doktoral.  
Sains untuk jenjang pendidikan dasar harusnya lebih menyenangkan. Mengaitkan fenomena-fenomena yang ada di sekitar dengan konsep-konsep dasar sains tentu akan menimbulkan minat siswa untuk belajar. Melalui sains, siswa akan dilatih menjadi orang yang mampu berpikir secara saintifik. Mengeksplorasi alam sekitar melalui penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Sains mengajarkan siswa cara berpikir sistematis, rasional dan kritis. Adalah fakta bahwa perkembangan kemampuan berpikir tidak selamanya seiring dengan perkembangan biologis. Berbagai riset sudah membuktikan itu. Hasil-hasil riset juga sudah diterjemahkan menjadi kurikulum sains yang menyenangkan dan dapat diterapkan pada anak semenjak berada pada tingkat kanak-kanak.
Adalah fakta pula bahwa anak-anak pada usia dini sering mengajukan pertanyaan yang seringkali membuat orang tua atau orang dewasa menjadi kebingungan. Anak pada usia-usia perkembangan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka pada dasarnya adalah ilmuwan yang tradisional. Tanpa kelengkapan kognitif yang memadai tetapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan seringkali berupa pertanyaan yang membutuhkan analisa yang mumpuni. Kurikulum sebagai cetak biru pendidikan seharusnya bisa memfasilitasi hal itu. Meleburkan sains dalam mata pembelajaran bahasa Indonesia adalah mereduksi sifat-sifat sains dan proses anti-literasi sains. Dan, yang paling penting adalah kurikulum justru membunuh rasa ingin tahu dan sikap ilmuwan siswa.
Kedua. bukan bahasa yang membutuhkan sains sebagain bagian integral dari konsep berbahasa, tetapi sains yang membutuhkan bahasa. Sains membutuhkan bahasa untuk kepentingan komunikasi saintifik. Konsep-konsep sains atau hasil penyelidikan ilmiah maupun gagasan ilmiah harus dapat dikomunikasikan. Komunikasi sains dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis. Pada tahap inilah, bahasa dipelajari oleh siswa. Tidak tersubordinasi tetapi menyatu sebagai bagian integral yang tak dapat dipisahkan dari. Ketika siswa harus mengkomunikasikan konsep atau hasil penyelidikan maka prasyarat penguasaan kemampuan berbahasa secara lisan maupun tulisan diajarkan secara komprehensif. Siswa diajarkan bagaimana menyampaikan gagasan secara lisan. Atau, secara tertulis dengan mempelajari teknik-teknik menulis yang baik dan benar.
Mengajarkan sains dapat sekaligus dilakukan dengan mengajarkan kemampuan-kemampuan berbahasa. Oleh karena itu, pada perguruan tinggi bahasa adalah mata kuliah umum yang diajarkan di semua bidang ilmu. Bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat berpikir yang dibutuhkan oleh semua bidang ilmu bukan hanya sains. Akan menjadi kacau jika pada akhirnya bahasa membawahi bidang-bidang ilmu lain.
Ketiga. Mengintegrasikan sains di dalam bahasa pada akhirnya membutuhkan guru bahasa yang menguasai sains secara mendetail. Saya membayangkan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia di Indonesia pada Tahun 2013 nanti harus dilakukan secara laboratoris. Ada tabung reaksi. Ada mikro pipet dan beberapa larutan kimia. Guru bahasa harus memahami konsep fotosintesis dan membuktikannya melalui percobaan sederhana semacam percobaan Sach untuk membuktikan ada tidaknya glukosa, atau percobaan Ingenhousz untuk membuktikkan hasil fotosintesis adalah oksigen (O2). Atau, penyelidikan ilmiah lapangan seperti identifikasi organisme dalam suatu plot. Jika pun akhirnya hal itu dilakukan oleh guru sains maka terlihat jelas bahwa sains telah disubordinasi. Dan yang paling penting adalah bahwa, konsep integrasi yang didalilkan itu menjadi seperti air dan minyak. Tak akan pernah bisa menyatu menjadi sebuah wujud baru jika sains yang dileburkan ke dalam mata pelajaran bahasa.
Upaya perubahan kurikulum memang sebuah keniscayaan dalam pendidikan di Indonesia. Perkembangan teknologi dan informasi yang sedemikian cepat harus dibarengi dengan adaptasi konseptual yang cepat pula. Namun, perubahan itu seharusnya lebih terprogram (by design) dan bukan karena ada masalah-masalah semacam kasus-kasus tawuran (by acident). Artinya, perubahan kurikulum adalah untuk mensinergiskan pendidikan dengan berbagai aspek, tetapi bukan atas dasar desakan-desakan dari lingkungan. Jika dilakukan secara terprogram, pemerintah seharusnya menyiapkan terlebih dahulu berbagai hal yang dibutuhkan. Yang paling penting adalah, ketersediaan sarana-prasarana dan kesiapan sumberdaya guru. Problematika guru saja, mungkin akan menjadi satu tulisan yang lain lagi,  belum bisa diselesaikan dengan baik oleh pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah.  
Indonesia saat ini masih dipusingkan dengan rendahnya mutu guru di berbagai daerah. Dan, beban baru perubahan kurikulum saat ini membutuhkan guru yang berkualitas. Tampaknya, saya memang harus berkesimpulan bahwa perubahan demi perubahan kerangka dasar pendidikan di Indonesia memang selalu by acident. Bukan memelihara sifat pesimistis tetapi jika ini dasarnya, sulit kita berharap perubahan akan membawa dampak positif bagi pendidikan kita. 



Yogyakarta, 23 November 2012


Novie S. Rupilu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar