KONSOLIDASI MEMORI JANGKA PANJANG
Oleh: Novie S. Rupilu
Saya mungkin termasuk orang yang terlambat membaca buku The Shallows.
Buku yang masuk dalam finalis peraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize tahun
2011 lalu itu memang sudah beberapa kali saya lihat ketika berkunjung ke toko
buku dan bagaimana bisa saya telah melewatkannya begitu saja. Tapi, saya
berpikir positif saja dengan mengingat sebuah ungkapan “late is better than
never”.
Sekedar mengingatkan kembali, buku itu terdiri dari 10 bab, belum
termasuk prolog, epilog dan beberapa intermezo di dalamnya. Buku itu
merupakan perluasan dari artikel sebelumnya yang ditulis oleh Nicholas Carr
pada majalah The Atlanthic dengan judul Is google
making us stupid?. Nicholas Carr menyambung logika yang terputus pada
esainya itu dengan menulis sebuah buku yang luar biasa. Kali ini Carr
benar-benar menunjukkan bahwa ia memang serius dengan tuduhannya. Penjelasan
mengenai sejarah buku, percetakan dan kegiatan membaca serta teknologi
bergabung dengan hasil-hasil riset dan membuat buku itu benar-benar kaya
informasi.
Karena terlambat, saya pikir tidak usah berpanjang lebar mendeskripsikkan
buku The Shallows yang mungkin sudah anda baca juga beberapa
waktu lalu. Saya langsung pada pokok apa yang ingin saya kemukakan dalam
tulisan ini.
Ada sebuah bagian di dalam buku itu yang menarik perhatian saya. Pada
halaman 131, Carr menulis bahwa,
"...konsentrasi
tunggal kita mengarah pada teks sehingga kita bisa memindahkan seluruh atau
sebagian besar informasi sedikit demi sedikit, memori jangka panjang dan
membentuk asosiasi kaya bagi terciptanya skema".
Kalimat ini menggambarkan bahwa proses pemindahan informasi dari memori
aktif atau memori jangka pendek terjadi ketika seseorang sementara memroses
informasi, misalnya melalui membaca. Dengan memberikan perhatian pada teks,
maka otomatis informasi yang diterima oleh register indera akan langsung dapat mencapai memori jangka panjang.
Ketika berhadapan dengan internet, kita berhadapan dengan banyak saluran
informasi, semuan penuh. Sarung jari kita bajir ketika kita beralih dari satu
saluran ke saluran lain. Kita hanya bisa memindahkan sedikit informasi ke dalam
memori jangka panjang, dan yang kita pindahkan adalah banyak tetesan dari
berbagai saluran, bukan arus infomrasi yang koheren dan berkesinambungan dari
satu sumber.
Carr membuat perbandingan yang berujung pada perbedaan yang tajam antara
membaca dengan buku teks dan membaca melalui internet. Disini, terlihat jelas
bahwa Carr berusaha membujuk pembacanya untuk meyakini bahwa hanya buku yang
mampu mengisi ruang biologis dengan kapasitas tak terbatas yang disebut memori
jangka panjang (long term memory). Dan, jangan berharap hal itu bisa
dilakukan oleh internet.
Kedua kutipan di atas mengganggu struktur skema saya tentang memori. Saya
sudah sering mengunggah riset-riset yang berkaitan pembentukan memori. Bahkan
artikel ilmiah tentang topik itu, boleh dikatakan, melimpah dalam komputer
jinjing jadul saya. Nichollas Carr telah menyederhanakan sebuah proses,
pembentukan memori jangka panjang, yang sebenarnya tidak sesederhana itu.
Simplifikasi boleh saja tapi tentu tidak harus menghilangkan faktor-faktor lain
yang juga penting, bahkan teramat penting. Tentu saja ini bermasalah secara
teoritis.
-----
Membaca dan Memori Jangka panjang
Membaca dengan perhatian penuh saja tidak cukup memastikan bahwa informasi
itu akan sampai pada memori jangka panjang. Seorang pembaca yang baik akan
membaca materi yang dibacanya secara berulang-ulang hingga dia meyakini bahwa
apa yang dibacanya sudah benar-benar dipahami. Pertama kali membaca sebuah
materi, menurut pengalaman saya, seorang pembaca akan melakukan skimming atau
membaca dengan cepat. Setelah selesai, dia akan membaca kembali materi itu
tetapi dengan cara yang lambat sambil memberikan catatan-catatan kecil atau
menggarisbawahi bagian-bagian tertentu yang dianggap penting lalu memikirkan
bagian itu sebentar dan meneruskan kembali.
Jika proses itu dilakukan, maka yang sementara dilakukan oleh seorang
pembaca adalah tahapan-tahapan pembentukan memori jangka panjang. Segera
setelah seseorang menerima informasi melalui inderanya, informasi itu akan tiba
pada memori jangka pendek atau memori kerja. Jenis memori ini sangat terbatas
dan informasi harus segera dikode agar tidak terhapus terhapus jejak dari
memori jangka pendek. Informasi yang berada pada memori jangka pendek sangat
labil dan rentan terhadap lupa. Informasi ini harus ditransfer ke memori jangka
panjang yang tak terbatas kapasitasnya.
Proses transfer melibatkan mekanisme biologi molekuler yang rumit.
Dibutuhkan beberapa bab yang tebal untuk membahasnya. Dari segi waktu, transfer
informasi ke dalam memori jangka panjang membutuhkan waktu yang panjang, bahkan
untuk jenis informasi deklaratif, bisa sampai bertahun-tahun. Proses transfer informasi
dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang sering disebut konsolidasi yang
mencakup aktivasi kembali, analisis dan inkorporasi. Informasi yang telah
dikode pada memori jangka panjang akan diaktifkan kembali, dianalisis dan
dimasukan ke dalam struktur memori yang telah ada sebelumnya.
Ada beberapa strategi transfer informasi ke memori jangka panjang ketika
membaca sebuah materi. Strategi yang umum ditawarkan adalah proses membaca
berulang-ulang (rehearsal). Tujuannya agar informasi tersebut tetap
berada di memori jangka pendek dan akan ditrasnfer ke memori jangka panjang.
Selain itu, ada pula strategi metakognitif. Membaca sambil menggarisbawahi
bagian-bagian yang penting merupakan ciri strategi ini.
Boleh dikatakan bahwa proses transfer informasi dari memori jangka pendek
ke memori jangka panjang bukanlah sebuah proses yang instan.
Tidur dan Memori Jangka Panjang
Ada pula satu proses yang tak kalah penting dalam konsolodiasi memori
jangka panjang yaitu tidur. Bagian-bagian yang berperan sebagai tempat
penyimpanan informasi, seperti hipokampus, bekerja dalam 2 kondisi
yaitu sadar (ketika kita bangun atau terjaga) dan kondisi tidak sadar (ketika
kita tidur). Berbagai riset dengan menggunakan hewan coba maupun pada manusia
menunjukkan bahwa hipokampus teraktivasi kembali ketika kita tidur. Hal ini
berarti bahwa hipokampus bekerja kembali pada saat kita tidur.
Tidur tidak sekedar mengikuti ritme Sirkardian (24 jam) dimana manusia
diprogram untuk tidur pada waktu malam tetapi juga mencakup proses fisiologis
yang mengatur konsolidasi memori jangka panjang. Tahapan tidur yang penting
dalam konsolidasi memori jangka panjang adalah tidur REM (rapid eye movement).
Tidur REM adalah salah satu siklus tidur yang ditandai dengan pergerakan mata
yang cepat dan merupakan dimana mimpi terjadi.
Sebuah penelitian dilakukan pada subjek dengan membagi menjadi 2 kelompok
yaitu kelompok yang memiliki waktu tidur malam yang kurang serta kelompok
subjek yang memiliki waktu tidur malam yang normal. Subjek kemudian dihadapkan
pada pengujian untuk mengingat sejumlah kata yang dibagi menjadi 3 kelas yaitu
positif, negatif atau netral. Subjek yang memiliki waktu tidur malam yang
kurang memiliki ingatan yang buruk terhadap 3 kategori tersebut dengan
rata-rata penurunan sebesar 40% dalam pembentukan memori baru. Hasil penelitian
tersebut juga memperlihatkan bahwa diantara ketiga kategori kata-kata tersebut,
subjek yang memiliki waktu tidur yang kurang menunjukkan retensi yang baik terhadap
kata-kata yang bersifat negatif. Dengan kata lain, subjek yang kurang tidur
mengalami hambatan dalam mengingat kata-kata yang bersifat positif maupun
netral. Hal yang terbalik terlihat pada kelompok siswa yang memiliki waktu
tidur yang normal.
Selama tidur, proses transfer informasi yang sebelumnya disimpan secara
temporal pada hipokampus ke bagian neokorteks yang merupakan bagian memori
jangka panjang akan lebih mudah dilakukan.
-----
Catatan Akhir
Meskipun pada akhirnya Nichollas Carr memberikan uraian biologis tentang
pembentukan memori jangka panjang pada bagian-bagian akhir bukunya, saya tetap
tidak menemukan penjelasan mengenai pengaruh tidur dalam konsolidasi memori
jangka panjang. Dan, penjelasan-penjelasan tersebut dibiarkan centang-perenang
tanpa analisa logis yang memadai. Saya juga tidak ingin terlalu curiga dengan
mengatakan bahwa proses konsolidasi secara tak sadar ini sengaja dilewati untuk
menghindari bias. Semacam proses membersihkan galat atau errror dalam
istilah statistik. Bagaimanapun, simplikasi terhadap proses-proses tak sadar
itu dapat membentuk pemahaman yang tak sempurna tentang konsolidasi memori
jangka panjang.
------
Yogyakarta, 20 Oktober 2012
Komentar
Posting Komentar